Skip to content

Foomer Official

Sumber Info Terlengkap dan Terupdate

Primary Menu
  • Home
  • Umum
  • Gaya Hidup
  • Keuangan
  • Home
  • Home
  • The Fed Kembali Pangkas Suku Bunga, Tapi Powell Beri Sinyal Hati-hati untuk Desember
  • Home
  • Keuangan
  • Umum

The Fed Kembali Pangkas Suku Bunga, Tapi Powell Beri Sinyal Hati-hati untuk Desember

Foomers October 30, 2025 4 minutes read
The Fed Kembali Pangkas Suku Bunga, Tapi Powell Beri Sinyal Hati-hati untuk Desember

Foomer Official – Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), kembali memangkas suku bunga acuannya untuk kedua kali berturut-turut pada Rabu (29/10/2025) waktu setempat. Dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), suku bunga pinjaman antarbank semalam dipangkas menjadi kisaran 3,75-4 persen, dengan hasil voting 10-2. Keputusan ini sempat disambut positif oleh pasar sebelum berubah arah setelah pernyataan hati-hati dari Ketua The Fed, Jerome Powell. Ia menyebut, pemangkasan berikutnya pada Desember belum tentu terjadi. Pernyataan itu membuat investor mulai berhitung ulang soal arah kebijakan moneter AS. Langkah ini juga diiringi dengan penghentian kebijakan quantitative tightening (QT) mulai 1 Desember mendatang menandakan perubahan besar dalam strategi ekonomi Amerika Serikat.

Suara Berbeda di Tubuh The Fed

Keputusan pemangkasan ini tidak diambil secara bulat. Dua pejabat tinggi The Fed menyatakan penolakan dengan alasan berbeda. Stephen Miran, Gubernur The Fed yang dikenal dekat dengan Presiden Donald Trump, menilai pemangkasan seharusnya dilakukan lebih agresif, sebesar setengah poin. Sementara Jeffrey Schmid, Presiden The Fed Kansas City, justru ingin agar suku bunga tidak diturunkan sama sekali. Perbedaan pandangan ini mencerminkan situasi ekonomi AS yang kompleks. Sebagian pihak melihat tanda perlambatan, sementara yang lain khawatir pemangkasan berlebihan justru memicu inflasi baru. Powell menegaskan, perdebatan ini menunjukkan The Fed bersikap lebih hati-hati dan berbasis data, bukan sekadar mengikuti tekanan pasar.

“Baca Juga : Digitalisasi Dorong DPK Bank Mandiri Tumbuh 13 Persen, Tembus Rp 1.884 Triliun”

Pasar Bereaksi Terhadap Pernyataan Powell

Setelah pengumuman pemangkasan suku bunga, saham-saham di Wall Street sempat melonjak karena investor berharap pelonggaran moneter akan berlanjut hingga akhir tahun. Namun euforia itu tak bertahan lama. Dalam konferensi pers, Powell menegaskan bahwa pemangkasan pada Desember “bukan hal yang pasti, bahkan jauh dari itu.” Ucapan tersebut langsung mengubah arah pasar. Berdasarkan data CME Group’s FedWatch, peluang pemangkasan Desember turun dari 90 persen menjadi hanya 67 persen dalam satu malam. Indeks utama seperti S&P 500 dan Nasdaq sempat melemah, meski perlahan pulih menjelang penutupan perdagangan. Sinyal Powell menjadi pengingat bahwa The Fed kini melangkah lebih hati-hati di tengah ekonomi yang penuh ketidakpastian.

Minim Data Ekonomi, The Fed Bergerak di Tengah Kabut

Langkah The Fed kali ini diambil dalam kondisi minim data ekonomi terbaru. Pemerintah AS menghentikan sementara pengumpulan dan publikasi data akibat kendala administratif. Satu-satunya data utama yang tersedia hanyalah indeks harga konsumen (CPI) yang dirilis pekan lalu. Sementara data penting lain seperti lapangan kerja, penjualan ritel, dan output industri masih tertunda. Dalam pernyataannya, The Fed mengakui bahwa kebijakan ini diambil di tengah ketidakpastian tinggi, namun menegaskan ekonomi AS masih tumbuh dalam laju moderat. Tingkat pengangguran memang sedikit meningkat tetapi tetap rendah. Powell juga menyoroti bahwa inflasi masih tinggi meskipun melambat dibanding awal tahun. Kondisi ini membuat langkah kebijakan moneter harus dilakukan secara hati-hati.

Dampak Langsung bagi Konsumen dan Dunia Usaha

Pemangkasan suku bunga acuan berdampak langsung pada berbagai produk keuangan yang digunakan masyarakat. Kredit kendaraan, hipotek (KPR), dan kartu kredit menjadi sektor yang paling cepat merespons perubahan ini. Bagi konsumen, penurunan suku bunga berarti beban bunga lebih ringan. Namun bagi investor, imbal hasil dari instrumen seperti deposito bisa berkurang. Pelaku usaha menyambut baik kebijakan ini karena dapat menekan biaya pinjaman dan mendorong investasi. Meski begitu, para analis mengingatkan bahwa pemangkasan berlebihan bisa memicu kenaikan inflasi baru. Powell memahami dilema ini, sehingga memilih pendekatan pragmatis dan berbasis data ekonomi untuk kebijakan berikutnya.

“Simak Juga : Bank Mandiri Perkuat Komitmen Keberlanjutan Lewat Pembiayaan Hijau dan Dampak Sosial Nyata”

Pandangan Pasar Global Terhadap Keputusan The Fed

Keputusan The Fed selalu menjadi barometer ekonomi global. Pemangkasan kali ini juga berdampak luas. Di Asia, termasuk Indonesia, reaksi pasar terlihat melalui penguatan dolar AS dan fluktuasi harga emas. Beberapa negara berkembang mulai mengantisipasi potensi arus modal keluar karena investor kembali ke aset dolar. Sementara lembaga internasional seperti IMF memperingatkan bahwa kebijakan moneter AS yang tidak konsisten bisa mengguncang stabilitas global, terutama di kawasan Asia. Meski begitu, banyak analis menilai langkah The Fed menunjukkan komitmen menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas faktor penting di tengah ketegangan geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia.

Jerome Powell dan Tantangan Keputusan Desember

Jerome Powell kini berada di posisi sulit. Di satu sisi, ia menghadapi tekanan politik dari Gedung Putih dan pelaku pasar yang mendesak pelonggaran lebih cepat. Di sisi lain, ia harus memastikan inflasi benar-benar terkendali sebelum mengambil langkah baru. Powell menegaskan bahwa setiap keputusan akan didasarkan pada data aktual, bukan ekspektasi publik. Ia menilai penting untuk berhati-hati di tengah sinyal perlambatan ekonomi global. Dengan peluang pemangkasan yang menurun, Desember diperkirakan menjadi bulan penuh ketegangan bagi pasar keuangan. Bagi Powell, menjaga kredibilitas The Fed dan kepercayaan publik tampaknya menjadi prioritas utama, bahkan jika hal itu berarti mengecewakan sebagian pelaku pasar yang berharap lebih banyak pelonggaran kebijakan.

Post navigation

Previous: Belajar dari Perceraian Raisa dan Hamish Daud: Saat Kehidupan Pribadi Tak Luput dari Sorotan Publik
Next: Tas Hamano Lokal Jepang Mendadak Viral Setelah Dipakai PM Sanae Takaichi, Pesanan Membludak Hingga 2026

Related Stories

Penerimaan Pajak Digital Indonesia Tembus Rp 50,51 Triliun di Awal 2026
  • Keuangan

Penerimaan Pajak Digital Indonesia Tembus Rp 50,51 Triliun di Awal 2026

Foomers April 29, 2026
Ambisi Besar Thailand: Megaproyek Land Bridge Siap Menantang Dominasi Selat Malaka
  • Umum

Ambisi Besar Thailand: Megaproyek Land Bridge Siap Menantang Dominasi Selat Malaka

Foomers April 27, 2026
Rupiah Melemah, BCA Tegaskan Dampaknya Tak Signifikan ke Portofolio Kredit
  • Keuangan

Rupiah Melemah, BCA Tegaskan Dampaknya Tak Signifikan ke Portofolio Kredit

Foomers April 24, 2026

Recent Posts

  • Penerimaan Pajak Digital Indonesia Tembus Rp 50,51 Triliun di Awal 2026
  • Ambisi Besar Thailand: Megaproyek Land Bridge Siap Menantang Dominasi Selat Malaka
  • Ketika Berat Badan Naik di Usia Muda: Ancaman Sunyi yang Kerap Diabaikan
  • Rupiah Melemah, BCA Tegaskan Dampaknya Tak Signifikan ke Portofolio Kredit
  • Terungkap Setelah 5 Tahun, Kelalaian Fatal Jadi Penyebab Tabrakan Jet Tempur Korea Selatan

Categories

  • Gaya Hidup
  • Home
  • Keuangan
  • Umum

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024

Copyright © Foomer Official | All rights reserved. | MoreNews by AF themes.