Foomer Official – China dan Rusia Diam-diam Mengincar Venezuela kian terasa sejak kehadiran armada perang Amerika Serikat di Laut Karibia meningkat drastis. Awalnya, operasi militer AS diklaim sebagai upaya memberantas narkotika. Namun, sejak akhir 2025, sasaran meluas hingga tanker minyak Venezuela. Langkah ini memukul jantung ekonomi negara tersebut, mengingat minyak masih menjadi penopang utama pendapatan nasional. Meski keterlibatan rezim Nicolas Maduro dalam jaringan narkoba masih diperdebatkan para analis, satu hal hampir tak terbantahkan: kontrol atas minyak berarti kontrol atas masa depan Venezuela. Di titik inilah krisis tak lagi bersifat domestik. Perlahan namun pasti, konflik berubah menjadi arena tarik-menarik kepentingan global. Sementara sorotan publik tertuju pada Washington, dua kekuatan besar lain justru bergerak lebih tenang, nyaris tanpa suara.
Minyak Venezuela sebagai Pusat Daya Tarik Global
Venezuela menyimpan cadangan minyak terbesar di dunia, lebih dari 300 miliar barel. Angka ini menjadikannya aset strategis yang sulit diabaikan, meski infrastruktur migas negara itu rusak akibat salah urus bertahun-tahun. Bagi Amerika Serikat, kekayaan ini selaras dengan orientasi kebijakan energi yang pro-industri minyak. Namun, minyak Venezuela juga berfungsi sebagai alat diplomasi bagi Nicolas Maduro untuk bertahan dari isolasi internasional. Di balik angka-angka cadangan tersebut, terdapat kalkulasi geopolitik yang jauh lebih kompleks. Para analis menilai, konflik Venezuela tak bisa disederhanakan sebagai soal minyak semata. Justru, sumber daya ini menjadi pintu masuk bagi kepentingan negara lain yang ingin memperluas pengaruh di belahan bumi barat.
Langkah Senyap China Mengamankan Energi
Bagi China, Venezuela adalah sumber energi alternatif di tengah kompetisi global perebutan bahan baku. Saat ini, sekitar empat persen impor minyak China berasal dari Venezuela. Meski terlihat kecil, angkanya terus meningkat. Bahkan, sejumlah analis memperkirakan impor tersebut bisa menembus 600.000 barel per hari, hampir setara dengan total produksi Venezuela. Minyak jenis Merey yang terkena sanksi Barat justru menjadi peluang bagi Beijing untuk mendapatkan pasokan murah. Sebagai imbalannya, China mengalirkan dana besar ke Caracas dalam bentuk pinjaman dan investasi. Utang Venezuela ke China diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar AS. Hubungan ini bukan sekadar transaksi energi, melainkan kemitraan strategis jangka panjang.
Teknologi dan Ideologi Memperkuat Pengaruh Beijing
Selain minyak, China memperluas pengaruhnya melalui teknologi dan infrastruktur. Sistem telekomunikasi Venezuela banyak bergantung pada komponen buatan China. Bahkan, Presiden Maduro secara terbuka memamerkan ponsel Huawei yang disebutnya aman dari penyadapan intelijen AS. Gestur ini bukan sekadar simbol, melainkan pesan politik. Di sisi lain, keselarasan ideologi turut mempererat hubungan kedua negara. Model sosialisme nasionalis Venezuela dinilai sejalan dengan doktrin Partai Komunis China. Dengan pendekatan ini, Beijing tidak hanya menawarkan uang dan teknologi, tetapi juga legitimasi politik bagi rezim Maduro. Langkah tersebut membuat China menjadi mitra yang sulit dilepaskan Caracas, terutama di tengah tekanan Barat.
Rusia Bermain di Ranah Militer dan Politik
Berbeda dari China yang fokus pada ekonomi, Rusia mengambil jalur militer dan politik. Moskwa secara konsisten mendukung Maduro di forum internasional dan memasok persenjataan ke Venezuela. Dukungan ini memperkuat posisi Caracas dalam menghadapi tekanan AS. Selain itu, Rusia memandang Venezuela sebagai pintu masuk strategis ke Amerika Latin. Dengan menancapkan pengaruh di kawasan yang secara tradisional dianggap sebagai halaman belakang AS, Kremlin mengirim pesan tegas soal keseimbangan kekuatan global. Hubungan ini bersifat simbiotik: Venezuela memperoleh perlindungan politik, sementara Rusia mendapatkan pijakan geopolitik yang bernilai tinggi.
Venezuela sebagai Papan Catur Kekuatan Besar
Pada akhirnya, Venezuela berubah menjadi papan catur geopolitik tempat kekuatan besar mengatur langkah. Amerika Serikat tampil terbuka dengan tekanan militer dan ekonomi. Sebaliknya, China dan Rusia memilih pendekatan senyap namun sistematis. Minyak, teknologi, utang, dan dukungan politik menjadi bidak yang dimainkan dengan cermat. Bagi rakyat Venezuela, situasi ini menghadirkan dilema panjang. Di satu sisi, dukungan Beijing dan Moskwa memberi ruang bernapas bagi pemerintah. Namun di sisi lain, ketergantungan baru berisiko menjerat negara dalam hubungan asimetris jangka panjang. Krisis Venezuela pun tak lagi sekadar konflik nasional, melainkan refleksi perebutan pengaruh global abad ke-21.