Skip to content

Foomer Official

Sumber Info Terlengkap dan Terupdate

Primary Menu
  • Home
  • Umum
  • Gaya Hidup
  • Keuangan
  • Home
  • Keuangan
  • Pendidikan RI Disorot DPR, Sri Mulyani Diminta Ambil Tindakan
  • Keuangan

Pendidikan RI Disorot DPR, Sri Mulyani Diminta Ambil Tindakan

Fandi Teguh July 3, 2025 3 minutes read
Pendidikan RI Disorot DPR, Sri Mulyani Diminta Ambil Tindakan

Ketua Komisi XI Melchias Marcus Mekeng

Foomer Official – Apa jadinya jika anggaran pendidikan meroket hingga ratusan triliun, tapi ruang kelas tetap bolong, atap roboh, dan jutaan anak Indonesia tidak pernah mencicipi bangku sekolah? Jawabannya: selamat datang di realitas pendidikan Indonesia, di mana lebih banyak uang tidak berarti lebih banyak belajar.

Rp724 Triliun untuk Apa, Tepatnya?

Mari kita mulai dengan angka: anggaran pendidikan Indonesia pada tahun 2025 mencapai Rp724,2 triliun. Luar biasa, bukan? Tapi jangan buru-buru kagum. Sebab dari jumlah sebesar itu, hanya Rp91,2 triliun yang benar-benar sampai ke pendidikan dasar dan menengah—tempat jutaan anak Indonesia seharusnya duduk dan belajar.

Sisanya? Tersebar entah ke mana. Salah satu penampung dana terbesar adalah pendidikan kedinasan yang menyedot Rp104,5 triliun. Dan tahu berapa orang yang menikmatinya? 13.000 orang saja. Iya, Anda tidak salah baca: Rp104,5 triliun untuk 13 ribu orang. Itu sama saja dengan Rp8 miliar per orang—sebuah “beasiswa” yang begitu megah hingga mungkin satu orang bisa membangun satu sekolah sendiri. Ironi paling indah di negara ini.

“baca juga: Obligasi AS Terpuruk, Kenyamanan Investor Hilang“

Rakyat Tak Sekolah, Tapi Anggaran Terus Naik

Melchias Mekeng, anggota Komisi XI DPR, benar-benar menepuk meja logika dalam rapat bersama Kementerian Keuangan. Ia membeberkan data mengkhawatirkan: 24,3% masyarakat Indonesia tidak pernah sekolah. Sementara 22,27% hanya tamat SD, dan hanya sekitar 5% yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi.

Dengan statistik seperti ini, kita seharusnya panik. Tapi entah kenapa, pemerintah tetap tampak santai. Mungkin karena angka-angka itu terlalu kecil dibandingkan jumlah nol dalam APBN pendidikan.

Bonus Demografi? Atau Bonus Masalah?

Pemerintah suka menyebut-nyebut “bonus demografi.” Tapi pertanyaannya: bonus untuk siapa? Jika hanya 5% yang berhasil menyentuh bangku perguruan tinggi, apakah sisanya akan menjadi penonton dalam “pesta ekonomi” yang dijanjikan?

Dalam kondisi ini, mimpi “Indonesia Emas 2045” lebih terdengar seperti slogan sinetron ketimbang rencana strategis. Bagaimana tidak? Bonus demografi hanya akan jadi berkah kalau ditopang oleh kualitas SDM. Dan kualitas tidak bisa dibangun di atas ruang kelas yang roboh dan guru honorer yang dibayar seadanya.

Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati

Sekolah Rusak, Siswa Putus, Tapi Masih Ada Dana Seremonial

Mekeng bahkan menunjukkan video yang menggambarkan kondisi sekolah di daerah NTT yang rusak parah. Atap bocor, lantai tanah, papan tulis kusam—semua menunjukkan bahwa dana pendidikan belum benar-benar menyentuh akar masalah. Tapi anehnya, anggaran seremonial, pelatihan birokrat, dan pendidikan kedinasan terus digelontorkan tanpa rasa bersalah.

Apakah memang lebih penting mencetak birokrat baru ketimbang memastikan setiap anak bisa mengeja namanya sendiri?

Saatnya DPR Turun Tangan—Benarkah?

Mekeng meminta agar Komisi XI diberikan wewenang untuk menyalurkan Dana Alokasi Khusus (DAK) pendidikan langsung ke daerah. Sebuah ide yang terdengar menarik—tapi sekaligus mencurigakan. Apakah ini upaya tulus membantu, atau justru membuka ruang baru untuk “bagi-bagi proyek” di lapangan?

Karena jika sejarah mengajarkan sesuatu, itu adalah: ketika politik ikut campur dalam anggaran, seringkali yang belajar justru bukan murid, tapi para pejabatnya.

Pendidikan Kita Butuh Lebih dari Sekadar Anggaran

Kita tidak butuh lebih banyak uang—kita butuh akuntabilitas, keberpihakan, dan integritas. Anggaran pendidikan sebesar Rp724 triliun bukanlah prestasi, tapi ujian. Dan sejauh ini, negara kita gagal menjawabnya.

Kalau masih seperti ini, bukan “Indonesia Emas” yang akan kita capai. Tapi “Indonesia Cemas”—tempat di mana masa depan dijual murah demi seremonial dan anggaran yang tak menyentuh sasaran.

Post navigation

Previous: Rahasia Daun Pandan: Herbal Multifungsi yang Jarang Disadari
Next: Ibu Candu Narkoba, Anjing Jadi ‘Pengasuh’ Bocah 8 Tahun

Related Stories

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.035 per Dollar AS, Tekanan Global Kian Terasa
  • Keuangan

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.035 per Dollar AS, Tekanan Global Kian Terasa

Foomers April 6, 2026
Harga Emas Dunia Siap Catat Penurunan Terbesar Sejak 2008
  • Keuangan

Harga Emas Dunia Siap Catat Penurunan Terbesar Sejak 2008

Foomers March 31, 2026
Harga Emas Dunia Anjlok Tajam, Pekan Terburuk Sejak 1983 di Tengah Geopolitik Memanas
  • Keuangan

Harga Emas Dunia Anjlok Tajam, Pekan Terburuk Sejak 1983 di Tengah Geopolitik Memanas

Foomers March 24, 2026

Recent Posts

  • Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.035 per Dollar AS, Tekanan Global Kian Terasa
  • Iran Klaim AS Gagal Selamatkan Kru F-15, Operasi Berujung Kehancuran Armada
  • Zendaya Ungkap Momen Manis, Saat Hatinya Yakin Tom Holland Adalah yang Tepat
  • Tradisi April Fools di Dunia: Dari Ikan Kertas hingga Misi Palsu yang Menghibur
  • Harga Emas Dunia Siap Catat Penurunan Terbesar Sejak 2008

Categories

  • Gaya Hidup
  • Home
  • Keuangan
  • Umum

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024

Copyright © Foomer Official | All rights reserved. | MoreNews by AF themes.