Foomer Official – Pasar kripto kembali dikejutkan oleh penurunan tajam Bitcoin dalam beberapa hari terakhir. Pada awal Februari 2026, harga aset kripto terbesar ini merosot mendekati 77.000 dollar AS, level yang terakhir terlihat pada April 2025. Penurunan ini menghapus sebagian besar reli yang sempat terbentuk di akhir tahun lalu. Bagi banyak investor ritel, momen ini terasa menyakitkan karena terjadi begitu cepat. Dalam hitungan hari, optimisme berubah menjadi kehati-hatian. Sentimen pasar pun berbalik arah, dari euforia ke defensif. Di tengah kondisi global yang bergejolak, Bitcoin kembali diperlakukan sebagai aset berisiko. Transisi ini menunjukkan betapa rapuhnya kepercayaan pasar ketika tekanan eksternal muncul bersamaan. Harga yang terus melemah menjadi refleksi kegelisahan investor menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Tren Penurunan Menyeret Seluruh Pasar Kripto
Penurunan Bitcoin tidak terjadi sendirian. Hampir seluruh pasar kripto ikut terseret dalam tekanan yang sama. Altcoin besar seperti Ethereum dan Solana juga mengalami koreksi tajam, seiring menyusutnya kapitalisasi pasar dan volume transaksi. Data bursa menunjukkan bahwa harga Bitcoin telah melemah sekitar 30 persen sejak puncaknya pada Oktober 2025. Penurunan ini mematahkan sejumlah level teknikal penting yang sebelumnya dianggap sebagai zona pertahanan kuat. Akibatnya, banyak pelaku pasar memilih bersikap menunggu. Transisi dari pasar yang agresif ke pasar yang lebih berhati-hati terasa jelas. Dalam situasi seperti ini, volatilitas menjadi semakin tinggi. Setiap kabar ekonomi global langsung memicu reaksi cepat. Pasar kripto kembali menunjukkan karakternya yang sensitif terhadap sentimen, baik positif maupun negatif.
“Baca Juga : Nelayan Sulit Dapat BBM Subsidi, KNTI Ungkap 2 Masalah Utama“
Likuidasi Besar di Pasar Derivatif Memperparah Tekanan
Salah satu pemicu utama kejatuhan harga Bitcoin adalah gelombang likuidasi besar di pasar derivatif. Posisi leveraged yang terlalu agresif terpaksa ditutup secara otomatis ketika harga bergerak berlawanan. Menurut data CoinGlass, lebih dari 1,6 miliar dollar AS posisi leveraged terhapus dalam periode volatilitas tinggi. Mayoritas likuidasi berasal dari posisi long yang bertaruh harga akan naik. Ketika harga justru turun, sistem bursa memicu penjualan paksa. Efek domino pun tak terhindarkan. Likuidasi mempercepat tekanan jual, mendorong harga semakin rendah. Dalam narasi pasar, momen ini sering disebut sebagai “pembersihan” posisi spekulatif. Namun, bagi investor yang terdampak, kejadian ini menjadi pengingat keras tentang risiko leverage di pasar kripto yang bergerak cepat dan tak kenal ampun.
Ketidakpastian Kebijakan The Fed Mengguncang Aset Berisiko
Selain faktor internal kripto, tekanan juga datang dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Spekulasi mengenai arah kebijakan Federal Reserve menjadi sorotan utama. Kekhawatiran pasar meningkat setelah muncul nama Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed yang dinilai berhaluan ketat. Prospek kebijakan moneter yang lebih agresif membuat investor global mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk Bitcoin. Transisi ini bukan hal baru. Setiap sinyal pengetatan likuiditas biasanya direspons negatif oleh pasar kripto. Dalam konteks ini, Bitcoin kembali dipandang bukan sebagai lindung nilai, melainkan aset spekulatif. Ketika suku bunga dan kebijakan moneter menjadi lebih ketat, daya tarik kripto pun ikut tertekan.
“Baca Juga : Kemendag Pastikan Izin Impor Daging Sapi 2026 Sudah Terbit Semua“
Gejolak Global Mempersempit Ruang Optimisme Investor
Tekanan terhadap Bitcoin juga tidak bisa dilepaskan dari gejolak ekonomi global yang lebih luas. Ketidakpastian geopolitik, fluktuasi pasar saham, dan kekhawatiran perlambatan ekonomi membuat investor cenderung memilih aset yang dianggap lebih aman. Dalam situasi seperti ini, kripto sering menjadi pilihan pertama untuk dilepas. Transisi ke mode “risk-off” terasa semakin kuat sejak awal 2026. Investor institusional pun mulai mengurangi eksposur, menambah tekanan jual di pasar. Narasi besar yang sebelumnya mendorong kripto sebagai alternatif sistem keuangan kini diuji oleh realitas makro. Bitcoin, yang sempat dianggap kebal terhadap gejolak tradisional, kembali menunjukkan korelasi dengan aset berisiko lainnya. Kondisi ini mempersempit ruang optimisme dalam jangka pendek.
Psikologi Pasar dan Ujian Kepercayaan Jangka Pendek
Di balik angka dan grafik, penurunan harga Bitcoin juga mencerminkan psikologi pasar yang rapuh. Ketika harga turun cepat, rasa takut sering kali mengalahkan logika jangka panjang. Banyak investor ritel memilih keluar demi menghindari kerugian lebih besar. Di sisi lain, sebagian pelaku pasar melihat fase ini sebagai ujian kepercayaan. Transisi dari euforia ke ketakutan merupakan siklus yang berulang dalam sejarah kripto. Namun, setiap siklus selalu terasa berbeda bagi mereka yang mengalaminya. Dalam jangka pendek, sentimen bearish masih mendominasi. Akan tetapi, pasar kripto dikenal dinamis dan penuh kejutan. Bagi investor yang bertahan, periode tekanan ini menjadi momen refleksi atas strategi dan toleransi risiko.