Skip to content

Foomer Official

Sumber Info Terlengkap dan Terupdate

Primary Menu
  • Home
  • Umum
  • Gaya Hidup
  • Keuangan
  • Home
  • Gaya Hidup
  • Parkinson Bukan Gangguan Jiwa, Ini Penjelasan Medis yang Sering Disalahpahami
  • Gaya Hidup

Parkinson Bukan Gangguan Jiwa, Ini Penjelasan Medis yang Sering Disalahpahami

Foomers April 15, 2026 4 minutes read
Parkinson Bukan Gangguan Jiwa, Ini Penjelasan Medis yang Sering Disalahpahami

Foomer Official – Parkinson bukan gangguan jiwa, tetapi kenyataannya masih banyak masyarakat yang salah memahami kondisi ini. Ketika seseorang mengalami perubahan ekspresi wajah, suara yang melemah, atau gerakan yang melambat, sering kali hal tersebut langsung dikaitkan dengan masalah psikologis. Padahal, secara medis, Parkinson merupakan gangguan neurologis yang menyerang sistem saraf. Penjelasan ini ditegaskan oleh Mohammad Kurniawan yang menyebut bahwa Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif, bukan kondisi kejiwaan. Oleh karena itu, penting untuk meluruskan persepsi ini agar penderita tidak mengalami stigma yang tidak perlu. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat dapat memberikan dukungan yang lebih baik kepada mereka yang mengalaminya.

Kerusakan Saraf Jadi Penyebab Utama Parkinson

Parkinson bukan gangguan jiwa, melainkan akibat kerusakan sel saraf di otak, khususnya pada area yang disebut substantia nigra. Di bagian ini, neuron bertugas memproduksi dopamin, zat kimia yang mengatur gerakan tubuh. Ketika sel-sel tersebut rusak, produksi dopamin menurun secara signifikan. Akibatnya, otak kesulitan mengoordinasikan gerakan secara normal. Inilah yang menyebabkan gejala seperti tremor, kekakuan otot, dan gerakan yang melambat. Proses ini terjadi secara bertahap dan tidak bisa dihentikan sepenuhnya. Namun, dengan penanganan yang tepat, gejala dapat dikendalikan. Oleh karena itu, memahami mekanisme ini menjadi penting agar masyarakat tidak lagi mengaitkan Parkinson dengan gangguan mental.

Baca Juga : Pemerintah Tahan Harga BBM di Tengah Lonjakan Minyak

Gejala Parkinson yang Sering Disalahpahami

Salah satu alasan Parkinson sering disalahartikan adalah karena gejalanya tidak selalu terlihat jelas. Banyak pasien mengalami ekspresi wajah yang datar, suara yang pelan, hingga perubahan perilaku yang tampak seperti depresi. Kondisi ini membuat orang di sekitar sering salah menilai. Selain itu, gejala non-motorik seperti gangguan tidur dan sembelit juga kerap diabaikan. Padahal, tanda-tanda ini bisa menjadi indikasi awal Parkinson. Dalam beberapa kasus, tulisan tangan pasien juga mengecil, yang dikenal sebagai micrographia. Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejala sejak dini. Dengan begitu, diagnosis dapat dilakukan lebih cepat dan penanganan bisa dimulai lebih awal.

Mengapa Parkinson Sering Dikira Gangguan Psikologis

Kesalahpahaman terhadap Parkinson tidak lepas dari gejala yang menyerupai gangguan psikologis. Ketika seseorang tampak kurang ekspresif atau berbicara dengan suara monoton, orang lain cenderung menganggapnya sebagai masalah emosional. Selain itu, sebagian pasien memang mengalami depresi atau kecemasan pada tahap lanjut. Namun, kondisi tersebut bukan penyebab utama, melainkan dampak dari gangguan saraf yang terjadi. Oleh karena itu, penting untuk membedakan antara gejala neurologis dan psikologis. Dengan pemahaman yang lebih baik, stigma terhadap penderita Parkinson dapat dikurangi. Hal ini juga membantu menciptakan lingkungan yang lebih suportif bagi mereka.

Baca Juga : Menhub Ungkap Prabowo Minta Garuda Kerja Sama

Faktor Risiko Parkinson Tidak Hanya Usia

Meskipun sering dikaitkan dengan usia lanjut, Parkinson sebenarnya tidak hanya menyerang orang tua. Usia di atas 60 tahun memang menjadi faktor risiko utama, tetapi ada faktor lain yang juga berperan. Faktor genetik menyumbang sekitar 10 hingga 15 persen kasus. Selain itu, paparan bahan kimia seperti pestisida dan logam berat juga dapat meningkatkan risiko. Riwayat cedera kepala berulang juga menjadi salah satu pemicu yang perlu diperhatikan. Bahkan, kondisi seperti stroke dapat menyebabkan gejala yang mirip Parkinson, yang dikenal sebagai vascular Parkinsonism. Oleh karena itu, memahami faktor risiko menjadi langkah penting dalam pencegahan dan deteksi dini.

Harapan Hidup dengan Parkinson Masih Terbuka

Meskipun Parkinson belum bisa disembuhkan, harapan hidup bagi penderita tetap terbuka lebar. Dengan pengobatan yang tepat, gejala dapat dikendalikan sehingga kualitas hidup tetap terjaga. Terapi yang tersedia meliputi penggunaan obat untuk menggantikan fungsi dopamin, serta terapi fisik dan wicara. Selain itu, prosedur seperti Deep Brain Stimulation (DBS) juga dapat membantu mengontrol gejala pada kasus tertentu. Dengan pendekatan multidisiplin, penderita dapat menjalani kehidupan yang produktif. Oleh karena itu, penting untuk tidak melihat Parkinson sebagai akhir dari segalanya. Dengan dukungan yang tepat, pasien tetap bisa menjalani hidup dengan penuh makna.

Pentingnya Edukasi untuk Mengurangi Stigma

Edukasi menjadi kunci utama dalam mengurangi stigma terhadap penderita Parkinson. Banyak kesalahpahaman yang terjadi karena kurangnya informasi yang akurat. Dengan memberikan pemahaman yang benar, masyarakat dapat lebih empati dan tidak mudah menghakimi. Selain itu, edukasi juga membantu penderita untuk lebih memahami kondisi mereka sendiri. Hal ini penting agar mereka tidak merasa terisolasi atau berbeda. Dalam jangka panjang, peningkatan kesadaran akan Parkinson dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif. Oleh karena itu, upaya edukasi harus terus dilakukan agar persepsi masyarakat terhadap penyakit ini semakin membaik.

Post navigation

Previous: Reli Harga Bitcoin Berlanjut, “Tol Kripto” Iran Picu Lonjakan di Tengah Geopolitik Memanas
Next: Kisah Hansjurgen Kohler, Detektif Antariksa yang Siap Terima Telepon UFO 24 Jam

Related Stories

WFH Jumat untuk ASN, Fleksibilitas Baru yang Ternyata Bisa Menambah Beban di Rumah
  • Gaya Hidup

WFH Jumat untuk ASN, Fleksibilitas Baru yang Ternyata Bisa Menambah Beban di Rumah

Foomers May 7, 2026
Tragedi Dokter Magang Meninggal Dunia, Seruan Reformasi Sistem Internship Menggema
  • Gaya Hidup

Tragedi Dokter Magang Meninggal Dunia, Seruan Reformasi Sistem Internship Menggema

Foomers May 3, 2026
Tanda Pakaian Tak Cocok dengan Bentuk Badan, Ini Cara Mengenalinya Sejak Awal
  • Gaya Hidup

Tanda Pakaian Tak Cocok dengan Bentuk Badan, Ini Cara Mengenalinya Sejak Awal

Foomers April 30, 2026

Recent Posts

  • Iran Ancam Negara Pendukung Sanksi AS, Selat Hormuz Kembali Jadi Titik Panas Dunia
  • WFH Jumat untuk ASN, Fleksibilitas Baru yang Ternyata Bisa Menambah Beban di Rumah
  • Bank Sentral Borong Emas di Tengah Ketidakpastian Global, Sinyal Kuat Arah Ekonomi Dunia
  • Setelah Senat AS Mengalah, Iran di Persimpangan Eskalasi atau Diplomasi
  • Tragedi Dokter Magang Meninggal Dunia, Seruan Reformasi Sistem Internship Menggema

Categories

  • Gaya Hidup
  • Home
  • Keuangan
  • Umum

Archives

  • May 2026
  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025
  • December 2024
  • November 2024
  • October 2024

Copyright © Foomer Official | All rights reserved. | MoreNews by AF themes.