Foomer Official – Banyak orangtua masih menganggap susu adalah minuman wajib untuk anak, bahkan setelah usia dua tahun. Namun, menurut dr. Susanti Himawan, Sp.A dari Primaya Hospital Kelapa Gading, anak di atas dua tahun sebenarnya tidak wajib mengonsumsi susu. Pada usia tersebut, fokus pemenuhan gizi anak seharusnya lebih mengarah pada kualitas makanan harian, bukan lagi bergantung pada susu. Selama dua tahun pertama kehidupan, susu memang penting untuk pertumbuhan, namun setelahnya, makanan bergizi lainnya yang lebih variatif justru lebih dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Susu UHT: Kapan Anak Bisa Mengonsumsinya?
Susu UHT sering menjadi pilihan bagi orangtua, tetapi kapan sebenarnya anak boleh mengonsumsinya? Menurut dr. Susanti, anak sudah boleh mengenal susu UHT sejak usia satu tahun. Namun, susu UHT sebaiknya tidak menjadi minuman utama. “Kalau sekadar snacking, kadang-kadang minum, boleh. Tapi bukan untuk setiap hari,” tegasnya. Anak di atas dua tahun bisa mengonsumsi susu UHT, tetapi porsinya tetap harus dibatasi agar tidak mengganggu asupan gizi yang lebih penting dari makanan sehari-hari.
“Baca Juga : Edukasi Gizi Berkelanjutan untuk Anak Sekolah: Kunci Meningkatkan Kualitas Gizi Bangsa”
Pengaruh Minum Susu Terlalu Banyak pada Anak
Terkadang, orangtua khawatir anak mereka kekurangan kalsium jika tidak minum susu secara rutin. Padahal, kalsium dapat diperoleh dari makanan lain seperti keju atau yogurt. Menurut dr. Susanti, konsumsi susu pada anak di atas dua tahun sebaiknya dibatasi maksimal 500 cc per hari. Jika lebih dari itu, susu justru dapat menggeser asupan nutrisi penting dari makanan lain. Ini bisa mengurangi keseimbangan gizi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh optimal. Oleh karena itu, penting untuk mengatur porsi susu agar tidak berlebihan.
Menyusun Pola Makan yang Seimbang untuk Anak
Penting bagi orangtua untuk memahami bahwa kebutuhan gizi anak tidak hanya berasal dari susu. Seiring dengan bertambahnya usia, anak memerlukan asupan yang lebih beragam, seperti sayuran, buah-buahan, protein, dan karbohidrat untuk mendukung tumbuh kembang mereka. Dr. Susanti menekankan bahwa pola makan yang seimbang harus menjadi prioritas utama. Susu hanya perlu menjadi bagian dari pola makan anak, bukan satu-satunya sumber gizi.
Susu dalam MPASI: Bolehkan Digunakan?
Banyak resep MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang menggunakan susu UHT sebagai bahan tambahan. Dr. Susanti menjelaskan, penggunaan susu UHT dalam MPASI boleh saja, asalkan dimasak terlebih dahulu. Misalnya, dalam membuat pannacota atau kentang susu keju panggang. Namun, ia menambahkan bahwa susu UHT tidak seharusnya menjadi bahan utama. “Bukan susu UHT yang harus menjadi yang utama dalam MPASI, namun tetap harus memperhatikan kandungan gulanya,” katanya. Orangtua diimbau untuk tetap memperhatikan keseimbangan gizi dalam makanan yang diberikan kepada anak.
“Baca Juga : Olahraga Singkat 10 Menit Dapat Aktifkan Sinyal Anti-Kanker dalam Tubuh”
Pentingnya Perubahan Pola Pikir Orangtua Mengenai Susu
Orangtua sering kali terlalu bergantung pada susu sebagai sumber gizi utama. Padahal, menurut dr. Susanti, seiring bertambahnya usia anak, pemenuhan gizi yang optimal justru lebih bergantung pada keberagaman makanan yang sehat. “Kita mengutamakan sumber gizi yang didapat anak dari nutrisi yang berkualitas, bukan hanya dari susu,” jelasnya. Ini menjadi pelajaran penting bagi orangtua untuk mengubah pola pikir dan memberi anak makanan yang lebih variatif serta bernutrisi.