Foomer Official – Pada Januari 2026, Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa nilai tukar rupiah melemah mencapai Rp 16.945 per dollar AS, sebuah penurunan signifikan dibandingkan akhir Desember 2025. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa penyebab utama pelemahan ini adalah faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif AS mempengaruhi pergerakan nilai tukar, sementara faktor domestik melibatkan kebutuhan besar valuta asing oleh beberapa korporasi besar di Indonesia.
Pengaruh Kebijakan AS dan Geopolitik Global
Faktor global, termasuk kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) dan tingginya imbal hasil US Treasury, menjadi penyebab utama depresiasi rupiah. AS juga menahan penurunan suku bunga, yang memperburuk aliran modal keluar dari pasar negara berkembang. Keadaan ini semakin mempengaruhi kestabilan mata uang di pasar global. Selain itu, ketidakpastian dalam konflik geopolitik, khususnya terkait Ukraina, turut memberi dampak negatif terhadap ekonomi Indonesia.
“Baca Juga : Barang Impor Mengendap Terancam Lelang: Peringatan Keras Menkeu untuk Importir“
Aliran Modal Asing Keluar dari Pasar Indonesia
Perry Warjiyo menyebutkan bahwa salah satu faktor domestik yang menyebabkan melemahnya rupiah adalah keluarnya aliran modal asing. Banyak investasi portofolio yang beralih dari negara berkembang seperti Indonesia ke negara maju, seperti AS. Pada 19 Januari 2026, tercatat ada net outflows sebesar 1,6 miliar dollar AS. Aliran modal keluar ini menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan memperburuk sentimen pasar.
Pencalonan Thomas Djiwandono Memicu Sentimen Negatif
Selain faktor global, pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI juga turut berkontribusi pada melemahnya rupiah. Munculnya sentimen negatif terkait proses pencalonan ini membuat pasar ragu akan stabilitas ekonomi Indonesia. Thomas Djiwandono adalah keponakan dari Prabowo Subianto, yang menjadi salah satu faktor yang memicu kekhawatiran pasar tentang kondisi fiskal Indonesia. Meski begitu, BI memastikan independensi lembaga tersebut tetap terjaga.
“Baca Juga : Bank Mandiri Komitmen Dukung Pemulihan Ekonomi Melalui Perlakuan Khusus Kredit untuk Debitur Terdampak Bencana“
Reaksi Pemerintah terhadap Krisis Rupiah
Pemerintah Indonesia melalui Bank Indonesia memastikan bahwa meskipun ada tekanan terhadap rupiah, kebijakan ekonomi yang ada akan terus diperkuat. Perry Warjiyo menegaskan bahwa keputusan kebijakan BI tetap didasarkan pada profesionalisme dan tata kelola yang kuat, meskipun ada dinamika politik domestik. Selain itu, BI juga menggarisbawahi pentingnya menjaga kestabilan nilai tukar dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Proyeksi Masa Depan Rupiah dan Inflasi
Bank Indonesia memperkirakan inflasi untuk 2026 dan 2027 akan tetap terkendali dalam kisaran 1,5 hingga 3,5 persen. Dengan proyeksi inflasi yang stabil, ruang untuk penurunan suku bunga acuan masih terbuka. BI juga terus memantau perkembangan global dan domestik untuk mengambil kebijakan yang tepat guna mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Meski ada tantangan, BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka panjang.