Foomer Official – Banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat memaksa Badan Nasional Penanggulangan Bencana bergerak cepat. Meski cuaca mulai membaik, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menegaskan bahwa banyak daerah masih terisolasi dan belum dapat dijangkau melalui jalur darat. Ia menekankan bahwa pencarian korban, pemulihan komunikasi, dan distribusi logistik harus dilakukan secara bersamaan agar tidak ada warga yang terabaikan. Situasi di lapangan menunjukkan betapa rentannya akses vital di pulau ini ketika bencana besar terjadi. Banyak petugas bekerja tanpa henti sejak hari pertama, menyisir daerah-daerah yang putus total dari jaringan transportasi. Suharyanto berharap percepatan penanganan ini mampu menyelamatkan lebih banyak nyawa dan memberi harapan baru bagi warga yang masih menunggu pertolongan.
Kerusakan Akses Utama Membuat Banyak Daerah Lumpuh
Kerusakan infrastruktur menjadi tantangan besar bagi tim penyelamat. Di Bireuen, jembatan Kuta Blang jalur utama Lintas Sumatra putus total setelah diterjang banjir. Kondisi ini membuat mobilitas terhenti dan warga di sejumlah desa terpaksa bertahan tanpa pasokan. Gambaran lapangan menunjukkan rumah-rumah yang terendam, pohon tumbang, serta jalanan berlumpur yang memutus hubungan antardaerah. Di beberapa lokasi, aliran air bah membawa gelondongan kayu sehingga memperparah kerusakan. Situasi ini menyulitkan evakuasi karena kendaraan tidak bisa mendekati area terdampak. Petugas akhirnya berjalan kaki untuk melakukan penilaian awal. Kehilangan akses ini membawa dampak besar, terutama bagi warga yang membutuhkan layanan medis segera. Di tengah kesulitan ini, harapan tetap ada berkat dukungan tim penyelamat yang terus berupaya membuka jalur melalui alat berat.
“Baca Juga : Banjir dan Longsor Sumbar 2025: Luka Kolektif di Tanah Minang”
Sibolga dan Tapanuli Menjadi Titik Paling Sulit Dijangkau
Wilayah Sumatera Utara menjadi salah satu yang paling terpukul. BNPB mencatat Sibolga, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan masuk kategori zona kritis. Akses menuju Sibolga dari Tarutung masih tertutup material longsor meskipun upaya pembersihan dilakukan sejak pagi hingga malam. Setiap lapisan tanah yang disingkirkan selalu terancam longsor susulan karena kondisi tebing masih labil. Di Tapanuli Tengah, beberapa desa benar-benar terisolasi karena seluruh jalur penghubung tertutup tanah dan batu. Warga yang terjebak hanya bisa menunggu bantuan dari udara. Cerita relawan menggambarkan bagaimana masyarakat bertahan dengan persediaan terbatas sambil berharap kabar dari tim penyelamat. Upaya menembus medan berat ini menunjukkan tantangan besar yang harus dihadapi dalam situasi darurat seperti sekarang.
Longsor di Lembah Anai Putuskan Jalur Vital Padang–Bukittinggi
Di Sumatera Barat, bencana tanah longsor memutus jalur nasional Padang–Bukittinggi di kawasan Lembah Anai. Longsor besar membuat pengguna jalan harus memutar jauh melalui Kabupaten Solok untuk bisa melanjutkan perjalanan. Sebagian warga yang terjebak di jalur tersebut mengaku panik ketika derasnya air membawa material batu dan kayu ke jalan. Sejumlah kendaraan terpaksa ditinggalkan karena tidak bisa bergerak. Kejadian ini juga menghambat pengiriman logistik dan bantuan medis ke wilayah yang terdampak paling parah. Di sepanjang jalur, petugas terus berusaha menilai keamanan area agar alat berat dapat masuk tanpa membahayakan operator. Meski situasi belum stabil, banyak pihak berharap jalur alternatif lain dapat segera digunakan untuk mempercepat evakuasi.
“Baca Juga : Vonis 4,5 Tahun untuk Eks Dirut ASDP: Babak Baru Kasus Akuisisi PT JN”
Pantai Padang Dipenuhi Gelondongan Kayu Usai Banjir Bandang
Pantai Air Tawar di Padang menunjukkan wajah yang berubah drastis setelah banjir bandang menerjang beberapa hari lalu. Tumpukan gelondongan kayu memenuhi sepanjang pantai, membuat warga terkejut melihat besarnya material yang terbawa arus. Banyak yang menduga banjir diperparah oleh dugaan pembalakan liar di hulu sungai. Cerita warga menunjukkan betapa cepatnya air naik hingga membuat mereka tidak sempat menyelamatkan barang-barang penting. Selain kerusakan fisik, kondisi ini juga menimbulkan ketakutan bahwa banjir susulan bisa terjadi kapan saja. Pemerintah daerah kini fokus membersihkan sisa material dan memeriksa potensi kerusakan lain di sekitar garis pantai. Upaya ini diharapkan dapat mengembalikan ketenangan warga yang tinggal dekat kawasan pesisir.
BNPB Kerahkan Armada Udara untuk Kirim Bantuan Mendesak
Karena banyak wilayah tidak dapat diakses lewat darat, BNPB mengerahkan helikopter MI-17 dan dua helikopter tambahan untuk mengirim bantuan. Armada ini membawa logistik penting seperti makanan, obat-obatan, dan peralatan evakuasi. Selain jalur udara, BNPB bekerja sama dengan TNI AL untuk mempercepat pendistribusian bantuan melalui jalur laut. Kapal dikerahkan menuju Pelabuhan Jago-jago untuk menyalurkan bantuan ke Sibolga dan daerah sekitarnya. Sementara itu, tim komunikasi berusaha memulihkan jaringan yang terputus agar informasi dapat tersampaikan dengan cepat. Langkah ini menjadi harapan baru bagi warga yang masih menunggu kabar dari keluarga mereka. Kehadiran bantuan udara memberi rasa lega, terutama bagi daerah yang sudah berhari-hari tanpa pasokan.
Pemulihan Komunikasi Menjadi Prioritas Bersama
Selain evakuasi dan logistik, pemulihan komunikasi menjadi tugas mendesak. Banyak wilayah terdampak kehilangan sinyal, membuat masyarakat sulit memberi kabar kepada keluarga. Petugas telekomunikasi bersama BNPB berupaya memasang perangkat darurat untuk mengaktifkan kembali jaringan di titik-titik prioritas. Langkah ini sangat penting karena komunikasi adalah kunci koordinasi penyelamatan. Tanpa jaringan, tim tidak bisa memetakan lokasi korban hilang atau menyalurkan bantuan secara tepat. Meskipun proses pemulihan memakan waktu, upaya ini terus berjalan agar masyarakat bisa kembali terhubung dengan dunia luar. Harapan besar menyertai setiap antena darurat yang berdiri, menandakan bahwa bantuan sedang dalam perjalanan menuju mereka.