Foomer Official – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu perdebatan setelah membagikan daftar peringkat presiden AS versinya sendiri. Dalam unggahan di Truth Social pada Kamis, 27 Agustus 2026, peringkat Presiden AS Trump menempatkan dirinya seorang diri pada posisi teratas dengan label “The Greatest”. Posisi tersebut bahkan berada di atas tokoh bersejarah seperti George Washington, Abraham Lincoln, dan Franklin D. Roosevelt. Daftar itu membagi para presiden ke dalam beberapa kategori, mulai dari “Great”, “Near Great”, “Average”, “Below Average”, hingga “Failures”. Sementara Trump menempatkan dirinya sebagai yang terbaik, Barack Obama dan Joe Biden masuk dalam kelompok terbawah. Unggahan tersebut segera menarik perhatian karena memperlihatkan penilaian personal Trump terhadap sejarah kepresidenan Amerika. Lebih dari sekadar daftar, peringkat itu juga membuka perdebatan mengenai perbedaan antara pandangan politik seorang presiden dan penilaian akademis para sejarawan.
Trump Menempatkan Dirinya di Atas Tokoh Besar Amerika
Bagian yang paling mencuri perhatian dari daftar tersebut adalah posisi Trump sendiri. Ia berada di tingkat tertinggi, bahkan melampaui Washington dan Lincoln, dua nama yang selama ini memiliki tempat penting dalam sejarah Amerika Serikat. Washington dikenal sebagai presiden pertama sekaligus figur sentral pada masa pembentukan negara. Sementara itu, Lincoln dikenang karena kepemimpinannya selama Perang Saudara dan perannya dalam penghapusan perbudakan. Franklin D. Roosevelt juga menjadi tokoh besar karena memimpin Amerika melewati Depresi Besar dan sebagian besar Perang Dunia II. Namun, peringkat Presiden AS Trump menyusun hierarki berbeda berdasarkan penilaian yang ia bagikan. Pilihan tersebut memperlihatkan bagaimana Trump memandang warisan politiknya sendiri. Di sisi lain, peringkat personal semacam ini tentu berbeda dari evaluasi akademis yang biasanya menggunakan sejumlah kriteria, seperti kepemimpinan, pencapaian kebijakan, kemampuan menghadapi krisis, dan dampak jangka panjang.
Baca Juga : Tragedi Banjir Himalaya Ungkap Ancaman Perubahan Iklim di Pegunungan Tinggi
Obama dan Biden Masuk dalam Kategori Gagal
Jika Trump menempatkan dirinya di puncak, sejumlah rival politiknya justru berada di bagian terbawah. Barack Obama dan Joe Biden masuk kategori “Failures” bersama beberapa mantan presiden lainnya, termasuk Jimmy Carter, Warren G. Harding, dan Ulysses S. Grant. Penempatan Obama dan Biden tidak terlalu mengejutkan jika melihat panjangnya rivalitas politik Trump dengan kedua tokoh Demokrat tersebut. Namun, daftar ini tetap menarik karena menggabungkan penilaian terhadap presiden dari periode sejarah yang sangat berbeda. Setiap pemerintahan menghadapi kondisi ekonomi, sosial, geopolitik, dan institusional yang tidak sama. Karena itu, membandingkan pencapaian mereka membutuhkan konteks yang luas. Peringkat Presiden AS Trump lebih tepat dipahami sebagai gambaran pandangan Trump sendiri daripada standar sejarah yang disepakati. Bagi publik, perbedaan tersebut penting agar opini politik tidak langsung dianggap setara dengan penilaian akademis berbasis penelitian dan metodologi tertentu.
Hilangnya Ronald Reagan dari Daftar Mengundang Perhatian
Bukan hanya siapa yang masuk daftar yang menjadi sorotan. Beberapa nama besar justru tidak terlihat sama sekali. Ronald Reagan menjadi salah satu ketidakhadiran yang paling menarik karena mantan presiden tersebut selama beberapa dekade memiliki pengaruh besar dalam politik konservatif Amerika dan Partai Republik modern. Nama lain yang tidak muncul antara lain Dwight D. Eisenhower, John F. Kennedy, Harry Truman, Richard Nixon, Gerald Ford, George H.W. Bush, dan George W. Bush. Tidak dijelaskan dalam materi yang diberikan mengapa tokoh-tokoh tersebut tidak masuk ke dalam peringkat. Karena itu, terlalu jauh jika menganggap ketidakhadiran mereka sebagai bentuk penilaian tertentu dari Trump. Meski demikian, absennya Reagan tetap mengundang pertanyaan mengingat statusnya di kalangan konservatif. Daftar tersebut akhirnya menarik perhatian bukan hanya karena urutannya, tetapi juga karena pilihan tokoh yang dimasukkan dan mereka yang tidak tercantum di dalamnya.
Baca Juga : Asap Lintas Batas Berulang, ASEAN Didesak Evaluasi Perjanjian 2002
Penilaian Sejarawan Memberikan Gambaran Sangat Berbeda
Menariknya, daftar Trump berbanding terbalik dengan hasil “2024 Presidential Greatness Project” yang melibatkan penilaian para ahli mengenai kepresidenan Amerika. Dalam survei tersebut, Abraham Lincoln menempati posisi pertama. Franklin D. Roosevelt berada di urutan kedua, disusul George Washington, Theodore Roosevelt, dan Thomas Jefferson. Trump, sebaliknya, berada pada posisi terakhir dalam survei tersebut, sedangkan Ronald Reagan menempati peringkat ke-16. Perbedaan tajam ini menunjukkan bahwa peringkat Presiden AS Trump dan survei akademis berangkat dari pendekatan yang berbeda. Daftar Trump mencerminkan penilaian yang ia pilih sendiri, sedangkan survei sejarawan berupaya mengukur kebesaran kepresidenan melalui pandangan para ahli. Meski penilaian akademis juga dapat memunculkan perdebatan mengenai metodologi dan perspektif, keberadaan kriteria serta kelompok responden membuatnya berbeda dari peringkat personal. Karena itu, keduanya sebaiknya tidak dibaca sebagai ukuran yang setara.
Andrew Jackson dan McKinley Mencerminkan Preferensi Politik Trump
Beberapa posisi dalam daftar memberikan gambaran mengenai tokoh sejarah yang selama ini mendapat perhatian Trump. Andrew Jackson, misalnya, ditempatkan dalam kategori “Great”. Pilihan tersebut sejalan dengan kekaguman yang sebelumnya pernah Trump tunjukkan terhadap presiden ketujuh Amerika Serikat itu. Sementara itu, William McKinley masuk kategori “Average”. Nama McKinley kerap muncul ketika Trump membicarakan perdagangan dan kebijakan tarif, dua isu yang juga menjadi bagian penting dalam agenda ekonominya. Dengan demikian, peringkat Presiden AS Trump dapat dibaca bukan hanya sebagai penilaian terhadap masa lalu, tetapi juga sebagai refleksi dari cara Trump melihat kepemimpinan dan kebijakan politik. Namun, setiap tokoh sejarah memiliki warisan yang kompleks. Kebijakan mereka sering mendapat penilaian berbeda ketika dilihat melalui konteks ekonomi, hak sipil, hubungan internasional, maupun perkembangan masyarakat. Sebuah kategori sederhana tentu tidak dapat menangkap seluruh kompleksitas tersebut.
Peringkat Presiden Selalu Membawa Perdebatan tentang Perspektif
Menentukan siapa presiden terbaik Amerika Serikat tidak pernah menjadi persoalan sederhana. Bahkan survei akademis dapat menghasilkan perubahan peringkat seiring munculnya penelitian baru dan perubahan cara masyarakat memahami sejarah. Seorang presiden mungkin mendapat nilai tinggi karena keberhasilan menghadapi krisis, tetapi tetap menghadapi kritik atas kebijakan lain. Karena itu, konteks dan kriteria menjadi penting ketika sebuah daftar peringkat dipublikasikan. Dalam kasus Trump, label “The Greatest” untuk dirinya sendiri memiliki dimensi politik yang kuat karena berasal langsung dari tokoh yang sedang dinilai. Hal tersebut berbeda dari evaluasi yang dilakukan pihak independen. Peringkat Presiden AS Trump akhirnya menjadi contoh bagaimana sejarah dapat digunakan dalam komunikasi politik kontemporer. Publik tidak hanya melihat siapa yang berada di atas atau bawah, tetapi juga mempertanyakan alasan, perspektif, serta kepentingan yang membentuk urutan tersebut.
Unggahan Trump Kembali Memanaskan Perdebatan Warisan Kepresidenan
Daftar yang dibagikan Trump pada akhirnya membuka percakapan lebih luas mengenai bagaimana seorang presiden ingin dikenang. Setiap pemimpin meninggalkan warisan yang penilaiannya dapat berubah setelah masa pemerintahannya berakhir. Kebijakan ekonomi, keputusan perang, penanganan krisis, hubungan dengan lembaga demokrasi, serta perubahan sosial menjadi bagian dari catatan yang kemudian dipelajari generasi berikutnya. Karena itu, penilaian sejarah biasanya membutuhkan jarak waktu dan bukti yang luas. Ketika peringkat Presiden AS Trump menempatkan dirinya melampaui Washington dan Lincoln, perhatian publik tidak hanya tertuju pada klaim tersebut. Perbandingannya dengan penilaian para sejarawan juga menjadi bagian penting dari cerita. Perbedaan itu menunjukkan bahwa reputasi politik dan reputasi historis tidak selalu berjalan bersama. Pada akhirnya, posisi seorang presiden dalam sejarah akan terus diperdebatkan melalui penelitian, dokumen, dampak kebijakan, dan perspektif generasi yang datang kemudian.