Foomer Official – Pada Jumat, 23 Januari 2026, China melakukan operasi penyelamatan besar setelah kapal kargo berbendera Singapura, M/V Devon Bay, terbalik di Laut China Selatan. Kapal tersebut mengangkut 21 pelaut Filipina dan mengalami kecelakaan sekitar 55 mil laut dari Pulau Huangyan, atau yang dikenal dengan nama Scarborough Shoal. Ini adalah wilayah yang menjadi sengketa antara China dan Filipina. Insiden ini memicu respons cepat dari Penjaga Pantai China yang bergegas menuju lokasi untuk mengevakuasi para pelaut.
Proses Penyeldikan dan Penyebab Kecelakaan
Kapal M/V Devon Bay kehilangan kontak pada Kamis malam, 22 Januari, setelah mengirimkan sinyal darurat. Ketika ditemukan, kapal tersebut dalam posisi miring hingga 25 derajat. Penjaga Pantai Filipina segera menghubungi China untuk meminta bantuan. Diketahui kapal tersebut sedang membawa muatan bijih besi yang menuju China. Nasib nahkoda dan awak lainnya masih menjadi tanda tanya besar hingga saat ini.
“Baca Juga : Trump Bisa Dilengserkan Tanpa Pemakzulan, Begini Prosesnya“
Tanggapan Cepat dari Penjaga Pantai China
Begitu menerima informasi, dua kapal Penjaga Pantai China yang dekat dengan lokasi segera bergerak menuju tempat kejadian. Dalam waktu beberapa jam, 17 pelaut berhasil dievakuasi dalam kondisi stabil. Namun, dua pelaut dilaporkan meninggal dunia. Foto yang dirilis oleh Kedutaan Besar China menunjukkan para pelaut yang selamat sedang mendapatkan perawatan medis, yang menggambarkan betapa cepat dan efisiennya respons penyelamatan yang dilakukan.
Ketegangan Diplomatik di Laut China Selatan
Meskipun operasi penyelamatan berjalan lancar, insiden ini menambah ketegangan diplomatik antara China dan Filipina. Laut China Selatan merupakan wilayah yang diperebutkan oleh banyak negara, termasuk China dan Filipina. Insiden ini terjadi di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina, yang bisa memicu ketegangan lebih lanjut. Ketegangan ini menyoroti betapa sensitifnya situasi di kawasan yang penuh dengan klaim tumpang tindih.
Masih Ada Empat Pelaut yang Hilang
Operasi pencarian masih berlanjut. Meskipun 17 pelaut berhasil dievakuasi, empat awak kapal lainnya masih hilang. Pencarian terus dilakukan oleh tim Penjaga Pantai China dan Filipina. Keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama, dan kerjasama antarnegara sangat penting untuk memastikan tidak ada lagi korban jiwa.
“Baca Juga : Benua Biru Dalam Bahaya, 27 Pemimpin Eropa Siapkan Rencana Perang Dunia III“
Reaksi Global terhadap Insiden di Laut China Selatan
Insiden ini menarik perhatian global, mengingat pentingnya Laut China Selatan dalam geopolitik dunia. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan negara-negara ASEAN sudah memberikan perhatian terhadap insiden ini, yang berpotensi memperburuk hubungan antara negara-negara yang terlibat. Kejadian ini menegaskan pentingnya kerjasama internasional dalam menjaga keselamatan di perairan yang strategis ini.
Masa Depan Laut China Selatan: Persaingan dan Kolaborasi
Laut China Selatan tetap menjadi wilayah dengan kepentingan strategis yang sangat besar. Ketegangan yang meningkat menunjukkan betapa pentingnya diplomasi dan kerjasama internasional. Meski ada klaim teritorial yang bertentangan, kolaborasi dalam operasi penyelamatan dan pengelolaan sumber daya alam tetap dibutuhkan. Semua pihak harus bekerja sama untuk menjaga keamanan dan stabilitas kawasan ini.