Foomer Official – Bitcoin kembali ke US$100.000 menjadi salah satu skenario yang kembali diperbincangkan setelah aset kripto terbesar itu mencatat reli kuat pada Agustus 2026. Bitcoin melonjak sekitar 25 persen selama bulan tersebut dan sempat bergerak di atas US$80.000. Pada 20 September 2026, harganya masih berada di sekitar level US$80.000. Dengan posisi tersebut, Bitcoin membutuhkan kenaikan sekitar 25 persen untuk mencapai US$100.000. Jarak itu bukan sesuatu yang mustahil jika melihat volatilitas historis Bitcoin. Namun, kenaikan tersebut juga tidak dapat dianggap pasti. Kebijakan suku bunga Amerika Serikat, regulasi kripto, permintaan institusional, kekuatan dolar AS, dan sentimen investor akan ikut menentukan arahnya. Oleh karena itu, target enam digit lebih tepat dipandang sebagai skenario pasar daripada prediksi harga yang pasti terjadi.
Reli Agustus Mengubah Sentimen Pasar Bitcoin
Agustus menjadi periode penting bagi Bitcoin setelah berbulan-bulan bergerak jauh di bawah rekor tertingginya. Reuters melaporkan Bitcoin sempat menembus US$80.000 pada 25 Agustus dan mencatat kenaikan sekitar 28 persen selama bulan tersebut. Pelemahan dolar AS serta meningkatnya minat terhadap aset alternatif ikut mendukung pergerakan itu. Reli tersebut menjadi signifikan karena Bitcoin sebelumnya mengalami koreksi besar dari puncaknya pada 2025. Akan tetapi, kenaikan tajam dalam satu bulan juga dapat diikuti konsolidasi. Pola seperti ini bukan sesuatu yang asing di pasar kripto. Investor sering mengambil keuntungan setelah harga bergerak cepat. Akibatnya, arah pasar berikutnya sangat bergantung pada apakah permintaan baru mampu menyerap tekanan jual. Dengan kata lain, reli Agustus membuka kembali peluang kenaikan, tetapi belum menjadi jaminan bahwa momentum akan berlanjut hingga US$100.000.
Harga Bitcoin Kini Berada Lebih Dekat ke Target Enam Digit
Posisi harga menjadi faktor penting ketika membahas peluang Bitcoin mencapai US$100.000. Data pasar pada 20 September menunjukkan Bitcoin bergerak sekitar US$80.000. Artinya, aset tersebut membutuhkan kenaikan kurang lebih seperempat dari nilainya untuk mencapai target enam digit. Dalam pasar saham, pergerakan sebesar itu mungkin dianggap sangat besar untuk periode singkat. Namun, volatilitas Bitcoin secara historis jauh lebih tinggi. Kenaikan puluhan persen dapat terjadi dalam beberapa minggu ketika momentum pasar sangat kuat. Sebaliknya, penurunan dalam skala serupa juga mungkin terjadi. Oleh sebab itu, jarak menuju US$100.000 perlu dibaca bersama risiko volatilitas. Investor tidak hanya perlu bertanya seberapa besar kenaikan yang diperlukan. Pertanyaan berikutnya adalah apakah permintaan dan kondisi makro mampu mempertahankan momentum tersebut sampai akhir tahun.
Kegagalan Clarity Act Menambah Ketidakpastian Regulasi
Salah satu perkembangan penting terjadi pada 15 September 2026. Senat Amerika Serikat gagal memajukan Digital Asset Market Clarity Act. Rancangan tersebut membutuhkan 60 suara untuk melanjutkan proses, tetapi gagal mencapai ambang tersebut. Kondisi itu menjadi kemunduran bagi industri kripto yang mengharapkan kerangka regulasi federal lebih jelas. Ketidakpastian regulasi dapat memengaruhi perusahaan maupun investor besar karena mereka membutuhkan kepastian mengenai pengawasan, perdagangan, dan klasifikasi aset digital. Meski demikian, kegagalan tersebut tidak berarti seluruh proses regulasi kripto berhenti. Otoritas seperti SEC dan CFTC masih memiliki kewenangan tertentu untuk mengembangkan aturan. Karena itu, dampaknya terhadap Bitcoin dapat berubah seiring munculnya kebijakan baru. Pasar kemungkinan akan terus memperhatikan bagaimana pemerintah AS mengatur aset digital setelah jalur legislasi menghadapi hambatan.
Baca Juga: Pembayaran KDKMP Rp37,7 Triliun Dijadwalkan Jatuh Tempo 25 September 2026
Kebijakan Suku Bunga Menjadi Tantangan Baru bagi Aset Berisiko
Selain regulasi, kebijakan moneter Amerika Serikat kembali menjadi perhatian. Federal Reserve menaikkan suku bunga pada September 2026 untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun. Suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan obligasi. Pada saat yang sama, kondisi tersebut dapat mengurangi minat terhadap aset yang memiliki volatilitas tinggi. Bitcoin sering bergerak seperti aset berisiko ketika kondisi likuiditas global berubah. Karena itu, arah kebijakan The Fed dalam beberapa bulan berikutnya dapat menjadi faktor penting. Jika inflasi tetap tinggi dan bank sentral mempertahankan kebijakan ketat, ruang kenaikan Bitcoin dapat menghadapi tekanan. Sebaliknya, apabila pasar melihat kemungkinan kondisi moneter menjadi lebih longgar pada masa mendatang, minat terhadap aset alternatif dapat kembali meningkat. Hubungan tersebut tidak selalu bergerak secara sempurna, tetapi tetap menjadi salah satu variabel yang diperhatikan pelaku pasar.
Narasi Emas Digital Kembali Mendapat Perhatian
Bitcoin sejak lama disebut sebagai “emas digital” karena pasokannya memiliki batas maksimum 21 juta BTC. Selain itu, mekanisme penerbitan Bitcoin tidak dikendalikan oleh bank sentral. Karakter tersebut membuat sebagian investor melihat Bitcoin sebagai alternatif penyimpan nilai. Narasi ini kembali memperoleh perhatian ketika kekhawatiran mengenai pelemahan mata uang dan kebijakan fiskal meningkat. Reuters mencatat reli Agustus turut mendapat dukungan dari apa yang disebut sebagai debasement trade, yakni pencarian aset alternatif ketika investor khawatir terhadap penurunan daya beli mata uang. Namun, Bitcoin dan emas memiliki karakter berbeda. Emas memiliki sejarah ribuan tahun sebagai penyimpan nilai, sedangkan Bitcoin baru hadir sejak 2009 dan memiliki volatilitas jauh lebih tinggi. Karena itu, narasi emas digital dapat membantu permintaan, tetapi tidak otomatis menjamin Bitcoin akan bergerak seperti emas dalam setiap kondisi pasar.
Rekor US$126.000 Menjadi Referensi Psikologis Pasar
Bitcoin sebenarnya sudah pernah berada jauh di atas US$100.000. Data Coinbase menunjukkan aset tersebut mencapai rekor sekitar US$126.210 pada 6 Oktober 2025. Setelah itu, harga mengalami koreksi besar dan kehilangan sebagian signifikan dari nilainya. Rekor tersebut penting karena menunjukkan bahwa level US$100.000 bukan wilayah harga yang sama sekali baru. Namun, fakta bahwa Bitcoin pernah berada di sana tidak berarti harga otomatis akan kembali. Kondisi likuiditas, sentimen, regulasi, dan permintaan saat ini berbeda dibandingkan ketika rekor tersebut terbentuk. Meski begitu, level tertinggi sebelumnya sering menjadi referensi psikologis bagi pelaku pasar. Jika harga mendekati US$100.000, perhatian investor dapat meningkat. Pada saat yang sama, area tersebut juga dapat menjadi tempat sebagian pemegang aset mengambil keuntungan. Karena itu, perjalanan menuju enam digit kemungkinan tidak berlangsung tanpa volatilitas.
Baca Juga: PDB per Kapita Indonesia Melonjak 210 Persen, Tembus 25 Besar Dunia
Siklus Halving Masih Menjadi Acuan Sebagian Investor
Bitcoin memiliki mekanisme halving yang mengurangi imbalan penambangan sekitar setiap empat tahun. Halving terakhir berlangsung pada April 2024 dan mengurangi imbalan blok menjadi 3,125 BTC. Secara historis, periode setelah halving sering dikaitkan dengan siklus kenaikan harga. Namun, hubungan tersebut tidak menjamin pola yang sama akan selalu terulang. Struktur pasar Bitcoin kini jauh lebih besar dan semakin terhubung dengan investor institusional. Karena itu, pengaruh faktor makro dapat menjadi semakin penting dibandingkan pada siklus awal Bitcoin. Halving berikutnya diperkirakan berlangsung sekitar 2028. Sebagian investor menggunakan periode tersebut sebagai kerangka untuk membaca siklus pasar jangka panjang. Meski demikian, keputusan investasi sebaiknya tidak hanya bergantung pada pola empat tahunan. Sejarah dapat memberikan konteks, tetapi tidak menentukan pergerakan harga masa depan.
Arus Modal Institusional Dapat Menjadi Katalis Penting
Perubahan besar pada pasar Bitcoin dalam beberapa tahun terakhir adalah meningkatnya keterlibatan investor institusional. Perusahaan investasi, pengelola aset, dan investor profesional kini memiliki lebih banyak jalur untuk memperoleh eksposur terhadap Bitcoin. Permintaan dari kelompok ini dapat memberikan dampak besar karena nilai modal yang dikelola jauh lebih besar dibandingkan investor ritel individual. Jika arus dana institusional meningkat menjelang akhir tahun, tekanan beli dapat membantu harga mendekati level psikologis berikutnya. Namun, arus tersebut juga dapat berbalik ketika kondisi makro berubah. Investor institusional biasanya mempertimbangkan likuiditas, volatilitas, suku bunga, serta risiko regulasi sebelum meningkatkan eksposur. Oleh sebab itu, kenaikan harga yang sehat membutuhkan permintaan yang bertahan, bukan hanya lonjakan spekulatif dalam waktu singkat.
Oktober dan November Memiliki Reputasi Kuat Secara Historis
Sebagian investor memperhatikan pola musiman Bitcoin. Oktober dan November secara historis beberapa kali menjadi periode yang kuat bagi aset tersebut. Pola itu kemudian melahirkan istilah populer seperti “Uptober” di komunitas kripto. Meski menarik, performa historis tidak dapat digunakan sebagai jaminan bahwa pola serupa akan terulang pada 2026. Pasar tahun ini menghadapi kombinasi kondisi yang berbeda, mulai dari kenaikan suku bunga hingga ketidakpastian regulasi Amerika Serikat. Oleh karena itu, pola musiman sebaiknya diperlakukan sebagai data pendukung, bukan dasar utama prediksi. Apabila momentum Agustus berlanjut dan permintaan tetap kuat, kuartal terakhir dapat memberikan ruang bagi kenaikan berikutnya. Sebaliknya, perubahan sentimen makro dapat dengan cepat menghapus keuntungan sebelumnya. Bitcoin tetap merupakan pasar yang bergerak berdasarkan banyak faktor secara bersamaan.
Pasar Prediksi Masih Menunjukkan Tingkat Skeptisisme
Optimisme investor tidak selalu tercermin dalam pasar prediksi. Pada 19 September, laporan Yahoo Finance yang mengutip Kalshi menyebut trader memberikan peluang sekitar 4 persen bagi Bitcoin mencapai US$100.000 pada November, 11 persen pada Desember, dan 16 persen pada Januari 2027. Angka tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar prediksi pada saat itu masih cukup skeptis terhadap kenaikan cepat menuju enam digit. Namun, probabilitas semacam ini tidak boleh dianggap sebagai ramalan ilmiah. Nilainya terbentuk dari perdagangan kontrak dan dapat berubah setiap saat ketika harga Bitcoin, sentimen, atau informasi baru berubah. Bahkan kenaikan Bitcoin dari kisaran US$76.000 menjadi sekitar US$80.000 dalam beberapa hari sudah mengubah jarak menuju target. Karena itu, probabilitas pasar prediksi lebih berguna untuk membaca ekspektasi pelaku pasar pada waktu tertentu daripada memastikan apa yang akan terjadi berikutnya.
Bitcoin Memerlukan Kombinasi Beberapa Katalis
Agar Bitcoin kembali ke US$100.000, satu katalis saja mungkin tidak cukup. Pasar kemungkinan membutuhkan kombinasi permintaan institusional, likuiditas yang mendukung, sentimen positif, dan perkembangan regulasi yang tidak memperburuk ketidakpastian. Pelemahan dolar juga dapat membantu narasi aset alternatif. Sebaliknya, kenaikan suku bunga lanjutan, tekanan regulasi, atau memburuknya kondisi ekonomi global dapat menghambat momentum. Dari kisaran US$80.000, kenaikan menuju US$100.000 secara matematis membutuhkan sekitar 25 persen. Bitcoin telah menunjukkan bahwa pergerakan sebesar itu dapat terjadi dalam waktu relatif singkat. Namun, kemampuan bergerak cepat berlaku ke dua arah. Karena itu, peluang mencapai US$100.000 tetap terbuka, tetapi tidak dapat diperlakukan sebagai hasil yang sudah ditentukan. Bagi pelaku pasar, indikator yang lebih penting adalah apakah momentum pembelian mampu bertahan setelah reli Agustus dan konsolidasi September.