Foomer Official – Liburan seharusnya menjadi momen menyenangkan untuk melepas penat, tetapi sebuah studi terbaru justru menunjukkan sisi lain yang jarang dibahas. Studi dari Universitas Queensland (UQ) menemukan bahwa banyak orang cenderung lebih boros energi, lebih cuek terhadap sampah, dan lebih tidak peduli lingkungan saat sedang liburan. Menariknya, perubahan ini bukan semata karena malas, melainkan karena pergeseran identitas psikologis: dari “identitas tempat pulang” ke “identitas tempat liburan.” Saat seseorang tiba di hotel atau destinasi wisata, kebiasaan hemat energi yang biasa dilakukan di rumah bisa langsung hilang. Akibatnya, pariwisata ikut menyumbang dampak besar pada iklim. Karena itu, penelitian ini terasa penting, bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk memahami mengapa kita berubah ketika sedang berlibur.
Identitas Liburan Membuat Orang Merasa Bebas dari Aturan
Penelitian UQ menjelaskan bahwa saat liburan, seseorang masuk ke kondisi psikologis yang disebut “identitas tempat liburan.” Dalam mode ini, pelancong merasa berhak bersenang-senang tanpa beban, seolah semua aturan yang biasa mengikat di rumah tidak lagi berlaku. Karena itu, banyak orang merasa lebih permisif pada diri sendiri, termasuk soal penggunaan listrik, air, dan kebiasaan membuang sampah. Secara emosional, liburan sering dipandang sebagai hadiah setelah rutinitas panjang, sehingga muncul dorongan untuk “menikmati saja.” Akhirnya, kontrol diri menurun, bukan karena orang tiba-tiba berubah jadi buruk, melainkan karena otak menganggap liburan sebagai ruang bebas tanggung jawab. Inilah yang membuat imbauan sederhana di hotel sering tidak mempan, sebab perilaku sudah lebih dulu dikendalikan oleh mindset “ini waktunya lepas aturan.”
“Baca Juga : Kenapa Anak Lebih Sensitif Setelah Liburan? Saat Emosi Kecil Berubah Jadi Sinyal Besar“
Identitas Tempat Pulang Membentuk Kebiasaan Hemat dan Teratur
Sebaliknya, saat berada di rumah, orang biasanya hidup dalam “identitas tempat pulang.” Identitas ini terbentuk dari rutinitas, tanggung jawab, serta hubungan emosional jangka panjang dengan lingkungan sekitar. Di rumah, seseorang cenderung lebih teratur, lebih peduli kebersihan, dan lebih sadar soal penggunaan energi. Bahkan tanpa disadari, banyak orang punya kebiasaan otomatis seperti mematikan lampu, menghemat air, atau memilah sampah. Selain itu, rumah juga memberi rasa kepemilikan, sehingga perilaku menjaga lingkungan terasa lebih personal. Namun ketika berpindah ke tempat liburan, rasa kepemilikan itu memudar. Hotel atau tempat wisata dianggap ruang sementara, jadi orang merasa tidak perlu mengatur diri seketat di rumah. Perubahan ini terjadi cepat, bahkan hanya dalam hitungan jam setelah tiba.
Studi UQ Menunjukkan Pola yang Konsisten di Tiga Penelitian
Yang membuat temuan ini kuat adalah cara peneliti membuktikannya. Tim UQ menjalankan tiga studi terpisah, dan hasilnya konsisten: peserta penelitian selalu merasa lebih tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan saat membayangkan atau menjalani liburan dibandingkan ketika berada di rumah. Ini menunjukkan bahwa pergeseran perilaku bukan kasus individual, melainkan pola psikologis yang umum. Rekan penulis studi, Anna Zinn, menegaskan bahwa perubahan identitas seperti ini sebenarnya wajar, tetapi penelitian ini menjadi salah satu yang pertama mengidentifikasi “identitas liburan” sebagai konsep khusus beserta dampaknya. Dengan kata lain, studi ini bukan sekadar opini tentang wisatawan yang boros, melainkan riset yang mencoba menjelaskan akar perilaku. Dari sini, kita bisa melihat bahwa solusi tidak cukup hanya dengan menegur wisatawan, tetapi perlu strategi yang lebih tepat secara psikologis.
“Baca Juga : Rasa Malu dan Tidak Dianggap Bisa Melukai Mental Anak, Ini Kata Psikolog“
Pariwisata Menyumbang Emisi Besar, Tapi Perilaku Wisatawan Sulit Diubah
Penelitian ini juga muncul karena kekhawatiran yang semakin besar tentang dampak iklim dari industri pariwisata. Data dari riset UQ sebelumnya menunjukkan bahwa pariwisata menyumbang hampir 9 persen emisi karbon global, angka yang tidak bisa dianggap kecil. Namun, masalahnya bukan hanya penerbangan atau transportasi, melainkan juga kebiasaan wisatawan yang boros energi di tempat tujuan. Banyak orang menyalakan AC hotel terus-menerus, membiarkan lampu menyala, memakai air berlebihan, dan mengabaikan aturan sampah. Sementara itu, upaya untuk mendorong perilaku berkelanjutan masih terbatas dan sering tidak efektif. Ini menciptakan situasi ironis: orang liburan untuk menikmati alam, tetapi tanpa sadar justru mempercepat kerusakan yang membuat alam itu semakin rapuh. Karena itu, isu ini makin relevan, terutama untuk destinasi yang mengandalkan keindahan lingkungan.
Pesan Hemat Air di Hotel Sering Tidak Efektif karena Datang Terlambat
Salah satu temuan paling menarik adalah soal pesan-pesan imbauan yang selama ini dipasang di hotel atau tempat wisata. Peneliti Sara Dolnicar menilai bahwa pesan seperti “gunakan air secukupnya” atau “hemat listrik” sering tidak digubris karena wisatawan sudah terlanjur berada dalam mode identitas liburan. Artinya, pesan itu datang terlambat, ketika pola pikir sudah berubah. Banyak orang membaca imbauan tersebut, tetapi tidak merasa itu relevan secara emosional. Mereka menganggapnya sekadar formalitas, bukan ajakan yang menyentuh. Di sisi lain, pelancong juga sering merasa biaya hotel yang dibayar memberi hak untuk memakai fasilitas sepuasnya. Akibatnya, kebiasaan boros dianggap bagian dari pengalaman liburan. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa strategi komunikasi perlu diubah, bukan hanya memperbanyak tulisan peringatan di kamar.