Foomer Official – Rupiah dan IHSG melemah pada perdagangan Kamis (5/2/2026) dan ditutup di level Rp 16.842 per dollar AS. Posisi ini turun sekitar 0,39 persen dibanding penutupan sebelumnya yang berada di Rp 16.777 per dollar AS. Meski begitu, pelemahan rupiah kali ini masih tergolong wajar. Selain itu, pergerakannya tidak menunjukkan tekanan ekstrem. Karena itu, pasar menilai rupiah masih bergerak dalam kondisi yang relatif terkendali. Dari sudut pandang saya, situasi seperti ini biasanya terjadi ketika investor sedang menunggu arah yang lebih jelas dari pasar global.
Dollar AS Menguat Setelah Data ISM Jasa Lebih Kuat
Penguatan dollar AS menjadi faktor utama yang menekan rupiah hari ini. Data ISM sektor jasa Amerika Serikat tercatat lebih tinggi dari perkiraan pasar. Akibatnya, investor kembali melirik dollar sebagai aset yang lebih aman. Selain itu, data tersebut memperkuat keyakinan bahwa ekonomi AS masih cukup kuat. Dengan demikian, tekanan terhadap mata uang negara berkembang ikut meningkat. Sementara itu, rupiah ikut terkena dampaknya karena pergerakannya sangat sensitif terhadap sentimen global. Menurut saya, kondisi ini akan terus berulang selama data ekonomi AS masih lebih solid dari ekspektasi.
“Baca Juga : Gopay Berantas Judi Online dengan Gerakan “Judi Pasti Rugi”“
Pelemahan Rupiah Diperkirakan Terbatas
Analis mata uang menilai rupiah masih berpotensi melemah dalam jangka pendek. Namun, pelemahannya diperkirakan tidak terlalu dalam. Hal ini terjadi karena pelaku pasar belum melihat adanya faktor domestik yang memicu tekanan besar. Selain itu, banyak investor memilih bersikap hati-hati. Mereka menunggu rilis data ekonomi berikutnya sebelum mengambil keputusan. Karena itu, rupiah lebih mungkin bergerak pelan dan tidak liar. Saya melihat situasi ini sebagai fase normal ketika pasar sedang mencari titik keseimbangan.
Pasar Masih Menunggu Data PDB Kuartal IV 2025
Selain faktor global, pasar juga menunggu data produk domestik bruto (PDB) kuartal IV 2025. Data ini dinilai penting untuk membaca kondisi ekonomi Indonesia secara lebih detail. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 5,11 persen secara tahunan. Meski angka itu cukup baik, investor tetap ingin melihat kualitas pertumbuhannya. Misalnya, apakah konsumsi rumah tangga menguat atau justru melemah. Selain itu, pasar juga ingin mengetahui apakah investasi dan ekspor masih menjadi penopang. Menurut saya, data PDB sering menjadi pemicu perubahan arah pasar karena memberi gambaran nyata tentang kekuatan ekonomi.
“Baca Juga : Nelayan Sulit Dapat BBM Subsidi, KNTI Ungkap 2 Masalah Utama“
IHSG Ditutup Turun Setelah Sempat Menguat
IHSG juga ditutup melemah pada perdagangan Kamis sore. Indeks turun 42,84 poin atau sekitar 0,53 persen ke level 8.103,88. Padahal, IHSG sempat dibuka menguat di level 8.154,60. Bahkan, indeks sempat menyentuh level tertinggi harian di 8.214,46. Namun, situasi berubah saat tekanan jual meningkat di sesi kedua. Akibatnya, IHSG berbalik turun hingga menyentuh level terendah 8.102,79. Menurut saya, pola seperti ini menunjukkan pasar masih mudah berubah ketika sentimen global ikut menekan.
Tekanan Jual Menguat di Paruh Kedua Perdagangan
Tekanan jual yang muncul di paruh kedua menjadi penyebab utama IHSG berakhir di zona merah. Dalam situasi seperti ini, investor biasanya melakukan aksi ambil untung. Selain itu, banyak pelaku pasar juga mengurangi risiko menjelang data ekonomi penting. Karena itu, tekanan jual sering muncul tanpa perlu pemicu besar. Meski demikian, pelemahan IHSG kali ini masih terlihat normal. Tidak ada tanda panic selling yang membuat pasar jatuh tajam. Menurut saya, pasar hanya sedang berada dalam fase defensif.