Foomer Official – Puasa bagi penderita diabetes sering terdengar menakutkan, padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak pasien diabetes tetap bisa menjalani Ramadhan dengan aman, selama kondisi tubuhnya stabil. Namun, kuncinya bukan sekadar niat kuat, melainkan kesiapan medis yang matang. Dokter spesialis penyakit dalam RS Raja Ampat, dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, menegaskan bahwa langkah paling penting sebelum Ramadhan adalah memastikan gula darah terkendali. Idealnya, gula darah puasa tidak lebih dari 150, sementara gula darah dua jam setelah makan tidak lebih dari 200. Selain itu, HbA1C juga harus berada dalam rentang terkontrol. Dengan kata lain, puasa bukan soal “boleh atau tidak” secara umum, tetapi soal kesiapan tubuh setiap orang.
Target Gula Darah Sebelum Ramadhan Jadi Pintu Utama Keamanan
Sebelum Ramadhan tiba, penderita diabetes sebaiknya tidak menunggu sampai hari pertama puasa untuk mulai disiplin. Justru, masa persiapan beberapa minggu sebelumnya adalah fase yang paling menentukan. Dokter menekankan bahwa gula darah harus stabil agar tubuh tidak mengalami lonjakan berbahaya saat berpuasa. Jika gula darah puasa sudah sering tinggi, maka puasa bisa memicu hiperglikemia. Sebaliknya, jika terapi obat tidak diatur, puasa juga bisa membuat gula darah turun drastis. Di sinilah pentingnya memeriksa pola makan, jam tidur, dan rutinitas obat lebih awal. Selain itu, persiapan ini memberi waktu untuk menyesuaikan kebiasaan tanpa tekanan. Bagi banyak orang, langkah ini terasa seperti menata ulang hidup, tetapi hasilnya membuat puasa jauh lebih aman.
Kadar Gula di Atas 250 Jadi Tanda Bahaya yang Tidak Bisa Diabaikan
Tidak semua penderita diabetes dianjurkan berpuasa, terutama jika gula darahnya masih tidak terkontrol. Dokter menjelaskan bahwa jika kadar gula darah berada di atas 250, biasanya pasien disarankan menunda puasa dan menggantinya di luar Ramadhan. Ini bukan keputusan yang ringan, karena banyak orang merasa sedih saat harus menunda ibadah. Namun, kesehatan tetap menjadi prioritas utama. Bahkan, pada kondisi yang lebih berat, dokter menyarankan agar pasien berdiskusi dengan tokoh agama untuk mempertimbangkan opsi fidiah. Dengan begitu, keputusan puasa tidak hanya didasarkan pada keinginan pribadi, tetapi juga pada kondisi medis yang nyata. Pada akhirnya, menjaga tubuh tetap aman juga bagian dari tanggung jawab spiritual.
Hipoglikemia dan Hiperglikemia Jadi Risiko yang Paling Sering Terjadi
Saat puasa, dua risiko terbesar yang paling sering muncul adalah hiperglikemia dan hipoglikemia. Hiperglikemia terjadi saat gula darah terlalu tinggi, biasanya ditandai sering buang air kecil, mudah haus, cepat lapar, cepat lelah, dan luka yang sulit sembuh. Namun, yang lebih berbahaya adalah hipoglikemia, yaitu ketika gula darah turun terlalu rendah. Kondisi ini bisa membuat pandangan berkunang-kunang, pusing, lemas, hingga penurunan kesadaran. Dokter menegaskan bahwa jika gula darah turun di bawah 60 atau muncul gejala berat, penderita diabetes harus segera membatalkan puasa. Meskipun terdengar tegas, aturan ini justru menyelamatkan. Karena dalam puasa, mempertahankan keselamatan tubuh jauh lebih penting daripada memaksakan diri.
“Baca Juga : BPOM Ungkap 8 Obat yang Sering Dipalsukan, Waspadai Peredarannya”
Konsultasi Dokter Sebelum Puasa Membantu Menata Obat dan Pola Makan
Banyak orang berpikir puasa hanya soal menahan lapar, padahal bagi penderita diabetes, puasa adalah perubahan ritme hidup. Karena itu, konsultasi dokter sebelum Ramadhan sangat penting. Dokter akan membantu menyesuaikan jadwal obat, termasuk apakah pasien tetap membutuhkan insulin atau cukup dengan obat oral seperti metformin. Selain itu, dokter juga akan menyesuaikan pola makan, karena sahur sebenarnya hanya pergeseran waktu sarapan, sedangkan berbuka adalah pergeseran waktu makan malam. Namun, yang membuat puasa berbeda adalah jeda panjang tanpa asupan cairan. Dengan perencanaan yang baik, pasien tetap bisa menikmati takjil, makan berat, dan camilan, asalkan porsinya tidak berlebihan dan tetap terkontrol.
Strategi Sahur dan Berbuka yang Tepat Bisa Menjadi “Tameng” Tubuh
Sahur bukan sekadar makan cepat sebelum azan, melainkan fondasi energi untuk seharian. Karena itu, penderita diabetes sebaiknya memilih makanan yang membuat gula darah stabil. Karbohidrat kompleks, protein, serta sayur menjadi kombinasi yang lebih aman dibanding makanan manis atau gorengan. Selain itu, berbuka juga perlu strategi, karena banyak orang “kalap” setelah seharian menahan lapar. Padahal, makan berlebihan saat berbuka bisa memicu lonjakan gula darah yang tajam. Oleh sebab itu, pola yang lebih aman adalah berbuka dengan porsi kecil terlebih dahulu, lalu makan utama setelah tubuh lebih stabil. Dengan cara ini, puasa terasa lebih nyaman. Bahkan, banyak pasien merasa lebih tenang karena tubuhnya tidak “kaget” saat menerima makanan.